Sesuai dugaan sebelumnya, Korea Utara mengalirkan air dari bendungan Hwanggang secara medadak tanpa pemberitahuan kepada pihak Korea Selatan. Di satu sisi, pelepasan air itu dapat dianggap sebagai serangan air yang disengaja, meskipun otoritas militer Korea Selatan menyatakan pihaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk menuntut hal tersebut sebagai serangan air.
Bendungan Hwanggang Korea Utara terletak di hulu sungai Imjin, hanya 46 km dari garis demarkasi. Sementara, hilir sungai Imjin terletak di wilayah Korea Selatan. Oleh karena itu, pelepasan air bendungan Hwanggang secara mendadak dapat menimbulkan terjadinya bencana di Korea Selatan. Faktanya, pada tahun 2009, 6 warga Korea Selatan yang sedang berkemah meninggal dunia akibat pelepasan air secara mendadak oleh Korea utara ke Sungai Imjin. Pasca kejadian itu, Korea Selatan dan Korea Utara mengadakan pertemuan dan menyepakati perlunya menyampaikan pemberitahuan pendahuluan tentang volume pelepasan air beserta alasannya saat melepaskan air bendungan Hwanggang. Sayangnya, Korea Utara hanya mematuhi komitmen itu hingga tahun 2010. Mulai tahun 2011, air bendungan kembali dilepaskan tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Pada bulan Mei lalu, Korea Utara juga telah mengalirkan air bendungan sebanyak dua kali tanpa adanya pemberitahunan, yang membuat para petani di hilir sungai Imjin menderita kerugian, seperti hilangnya peralatan penangkapan ikan.
Bendungan Gunnam, Korea Selatan yang berlokasi 10 km dari garis demarkasi, mampu mengatur kapasitas tampungnya jika air bendungan Hwanggang dilepaskan. Namun daya tampung bendungan Gunnam, 7.100 ton, hanyalah seperlima dari bendungan Hwanggang.
Pada tgl. 27 bulan Juni yang lalu, sebuah gambar satelit yang diperoleh KBS menunjukkan bendungan Hwanggang telah mendekati kapasitas maksimum daya tampungnya, yang mengkhawatirkan terjadinya pelepasan air mendadak. Setelahnya, otoritas militer Korea Selatan terus melakukan peninjauan dalam keadaan siaga darurat dan akhirnya memastikan pelepasan air bendungan yang dimulai sejak sekitar pukul 6 pagi tgl. 6 Juli. Sejumlah pihak berwenang yang terlibat seperti pemerintah daerah provinsi Gyonggi dan Perusahaan Pengelola Sumber Daya Air Korsel (K-Water), bereaksi cepat dengan mengambil langkah-langkah berdasarkan panduan, termasuk merekomendasikan agar penduduk dievakuasi ke tempat yang aman.
Pihak militer Korea Selatan menyatakan bahwa Korea utara melepaskan air dengan membuka pintu air bendungan sedikit demi sedikit, yang kemudian dianalisis sebagai usaha untuk menghadapi kebanjiran. Sementara itu, gubernur provinsi Gyeonggi Nam Gyong-phil menyampaikan kekecewaannya kepada Korea Utara atas keengganan mereka untuk memberitahu pihak Korea Selatan. Dia juga mendesak keras agar Korea Utara mematuhi kesepakatan akan perlunya pembertahuan pendahuluan saat melepaskan air bendungan Hwanggang.