Ruang Referensi

Home > Ruang Referensi > Pertemuan enam pihak > Pertemuan kelima (sesi ketiga)

Pertemuan kelima (sesi ketiga)

Garis Besar

Garis Besar
Waktu dan tempat 8~13 February, 2007 di Beijing, China
Juru runding
  • Kepala juru runding urusan perdamaian dan keamanan Semenanjung Korea, Chun Yung-woo
  • Kim Gye-gwan, wakil menteri luar negeri Korut
  • Christopher Hill, asisten menteri luar negeri urusan Asia timur dan Pasifik
  • Wu Dawei, wakil Menlu China
  • Wakil direktur bagian Asia dan Oceania Jepang,Sasae Genichiro
  • Duta besar Rusia untuk China, Sergei Razov

Hasil

para negara peserta menerapkan kesepakatan bahwa Korea Utara akan mengambil tindakan langkah awal untuk menuju tujuan akhir, pembuangan fasilitas nuklir ; sebagai imbalan, 5 peserta lain akan bertindak responsif.

Para peserta setuju bahwa

Kora Utara akan

· Menutup dan menyegel fasilitas nuklir Yongbyeon dan mengundang kembali tim inspeksi dari Badan Tenaga Atom Internasional, IAEA;
· Membahas dengan peserta lain tentang daftar semua program nuklirnya;
· Melaporkan semua program nuklir; dan
· Melumpuhkan semua fasilitas nuklir yang ada.

Sebagai imbalan

· Korea Utara dan AS akan memulai pertemuan bilateral bertujuan normalisasi hubungan. Washington akan memulai proses untuk mengeluarkan Pyongyang dari daftar pendukung negara terorisme . Perkembangan proses pencabutan Korea Utara yang dimasukkan kedalam UU Perdagangan AS dengan negara musuh.
· Korea Utara dan Jepang akan memulai pertemuan bilateral untuk normalisasi hubungan.
· Lima peserta akan bekerjasama untuk memberikan bantuan ekonomi, energi dan kemanusian ke Korea Utara.
· Lima pihak akan memberikan bantuan awal energi setara dengan 50,000 ton minyak solar (HFO) ke Korea Utara. Dan,
· Kalau Korea Utara menyelesaikan pelumpuhan semua fasilitas nuklirnya, pihak lain akan memberikan 950 ribu ton minyak solar kepada Korea Utara.

setuju untuk membentuk 5 kelompok tingkat kerja

· Denuklirisasi Semenanjung Korea
· Normalisasi hubungan Korut dan AS
· Normalisasi hubungan Korut dan Jepang
· Kerjasama ekonomi dan energi
· Mekanisme perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Timur Laut (peserta setuju bahwa semua Kelompok Kerja akan bertemu dalam 30 hari ke depan.)

Peserta juga setuju

· segera membuka pertemuan tingkat menteri untuk mengkonfirmasi pelaksanaan Pernyataan Bersama 19 September 2005, dan mencari jalan untuk meningkatkan kerjasama keamanan di kawasan Asia Timur Laut.
· negosiasi tentang sistem perdamaian permanen di Semenanjung Korea di dalam forum lain dalam waktu tepat di kemudian hari.

< Isi Pernyataan Bersama sesi ke-3 dalam pertemuan segi-6 ke-5 >

I. Para peserta mengadakan pembahasan serius dan produktif tentang langkah yang akan diambil masing masing peserta dalam tahap awal untuk melaksanakan Pernyatanan Bersama 19 September 2005. Semua pihak menegaskan kembali tujuan dan tekat bersama untuk mencapai denuklirisasi di Semenanjung Korea lebih cepat dengan cara damai dan berjanji kembali bahwa mereka akan secara setia memenuhi janji masing-masing dalam Pernyataan Bersama . Para peserta setuju untuk melakukan koordinasi untuk melaksanakan Pernyataan Bersama secara bertahap sejalan dengan prinsip “aksi banding aksi”.

II. Para peserta setuju untuk mengambil tindakan secara pararel dalam langkah awal:
1. DPRK (Korea Utara) akan menutup dan menyegel fasilitas nuklir Yongbyeon untuk tujuan akhir yaitu pembuangan nuklir, termasuk fasilitas daur ulang dan mengundang kembali personil IAEA untuk melaksanakan semua pengawasan yang dibutuhkan dan verifikasi seperti kesepakatan antara IAEA dan DPRK.
2. DPRK akan membahas dengan pihak lainnya tentang daftar semua program nuklirnya seperti dijelaskan dalam Pernyataan Bersama, termasuk plutonium yang dihasilkan dari limbah batang bahan bakar, yang akan dibuang sesuai dengan persetujuan Pernyataan Bersama.
3. DPRK dan AS akan memulai pertemuan bilateral bertujuan untuk menuntaskan isu bilateral yang belum diselesaikan dan untuk menuju hubungan diplomatik penuh . AS akan mulai memproses pekerjaan untuk mencabut nama DPRK dari daftar negara pendukung terorisme dan menuju ke proses penghentian penerapan UU AS untuk perdagangan dengan negara musuh yaitu DPRK.
DPRK dan Jepang akan memulai pertemuan bilateral bertujuan untuk mengambil langkah normalisasi hubungan mereka sejalan dengan Deklarasi Pyongyang, berdasarkan upaya bilateral untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di masa lalu yang belum diselesaikan dan isu menonjol bilateral.
Terkait pasal 1 dan 3 Pernyataan Bersama 19 September 2005, para negara peserta setuju untuk bekerjasama di bidang ekonomi, energi dan bantuan kemanusiaan untuk DPRK .
Menyangkut ini, dalam tahap awalnya para peserta setuju untuk memasok bantuan energi darurat kepada DPRK. Pengangkutan pertama bantuan energi darutat sebanyak 50 ribu ton minyak solar akan dimulai dalam 60 hari ke depan.
Para peserta setuju bahwa tindakan awal yang disebutkan itu akan dilaksanakan dalam 60 hari ke depan dan mereka akan mengambil tindakan koordinasi untuk menuju tujuan itu.

III. Para peserta menyetujui pembentukan kelompok kerja atau WG untuk melakukan tindakan awal dan untuk bertujuan melaksanakan secara penuh Penyataan Bersama, antara lain :
1. Denuklirisasi Semenanjung Korea
2. Normalisasi hubungan Korut dan AS
3. Normalisasi hubungan Korut dan Jepang
4. Kerjasama ekonomi dan energi
5. Mekanisme perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Timur Laut

Kelompok Kerja, WG akan membahas dan membentuk rencana rinci untuk melaksanakan Pernyataan Bersama pada bagian masing masing. WG melaporkan perkembangan pekerjaan mereka kepada ketua juru runding pertemuan segi-6. Secara prinsip, perkembangan di dalam satu WG akan tidak memberi pengaruh pada WG lain. Rencana yang dibuat oleh 5 WG akan dilaksanakan secara keseluruhan dengan cara saling koordinasi.

Para perserta setuju bahwa semua WG akan dibuka dalam 30 hari ke depan.

IV. Selama periode antara tahap awal dan tahap berikutnya yaitu termasuk pelumpuhan semua fasilitas nuklir yang ada sekarang (laporan yang sempurna tentang semua program nuklir dan pipa pendingin reaktor moderator grafit air didih (RBMK), fasilitas daur ulang / bantuan energi dan ekonomi berdasarkan kemanusian senilai 1 juta ton minyak solar termasuk bantuan minyak seberat 50 ribu ton akan dipasok kepada DPRK. Hal rinci tentang bantuan tersebut akan diputuskan melalui pembahasan WG di bidang ekonomi energi.

Ⅴ. Kalau tindakan awal dilaksanakan, para peserta segi 6 akan segera mengadakan pertemuan tingkat menteri untuk mengkonfirmasi pelaksanaan Penyatan Bersama itu dan mencari jalan dan cara untuk meningkatkan kerjasama keamanan di kawasan Asia Timur Laut.

VI. Para peserta menegaskan kembali bahwa mereka akan mengambil langkah positif untuk meningkatkan kepercayaan satu sama lain, dan akan berupaya bersama untuk melanjutkan perdamaian dan kestabilan di kawasan Asia Timur Laut. Negara Peserta yang terlibat langsung akan membahas sistem perdamaian permanen di semenjung Korea dalam forum di tempat lain secara tepat.

Ⅶ. Peserta setuju untuk mengadakan pertemuan segi-6 tahap ke-6 pada 19 Maret 2007 untuk mendengar laporan WG dan membahas tentang langkah berikutnya.

『“Kesepakatan tentang pembagian beban biaya untuk memberikan bantuan kepada Korea Utara”』

Cina, AS, Rusia dan Korsel , sesuai dengan keputusan negara masing masing , setuju untuk membagi beban biaya bantuan untuk Korut,
Berbasis pasal II (5) dan IV tentang basis prinsip persamaan dan keadilan; mengharapkan Jepang berpartisipasi dalam pembagian biaya itu berdasarkan prinsip yang sama; dan menyambut partisipasi masyarakat internasional dalam proses itu.

Perkembangan pertemuan

  • “peluncuran yang baik ”
    Sesi putaran ke-3 nampaknya dimulai di tengah harapan ada perkembangan yang lancar karena Korea Utara dan AS sudah mengecilkan selisih pandangan selama pertemuan antara ketua juru runding kedua negara di Berlin. Kalau Cina mengeluarkan rancangan persetujuannya di antara peserta saat sesi ketiga dimulai, ada dugaan bahwa kesepakatan bisa tercapai setelah merevisi beberapa kalimat rancangan itu .
  • Menghadapi penghalang (energi)
    Namun , pada tanggal 9 ,hari kedua pertemuan, negosiasi tentang pemberian bantuan energi untuk Korea Utara menemukan hambatan . Korea Utara dan 5 negara lain memiliki perbedaan pandangan yang tajam tentang jumlah minyak solar yang akan diterima Korea Utara. Enam delegasi berupaya mempersempit perbedaan, dengan cara Pyongyang mengurangi permintaannya, sedangkan perserta negara lain meningkatkan volume pemberian mereka. Pandangan tentang prospek pertemuan semakin tidak bisa diduga.
  • Kesepakatan saat terakhir
    Tanggal 12 Februari, para ketua juru runding bertukar pendapat tentang jumlah bantuan masing masing dalam pertemuan bilateral yang diadakan disela sela sesi utama. Khususnya, Pyongyang dan Tokyo mengadakan pertemuan tatap muka pertama dalam pertemuan sesi ketiga itu. AS dan Korea Utara selanjutnya mengadakan pertemuan bilateral ketiga hingga tengah malam, sehingga akhirnya mencapai persetujuan pada sekitar jam 3 subuh.

Isu utama dan hasilnya

  • Volume pemasokan minyak
    Para peserta memiliki pandangan beragam tentang isu bantuan energi, dari 500 ribu hingga 2 juta ton minyak solar. Dalam pertemuan itu, seperti saat Korea Utara memfokuskan tentang pencairan rekening mereka di Banco Delta Asia (BDA) di dalam sesi sebelumnya, Pyongyang memberikanperhatian penuh dan intensif pada isu energi selama sesi ketiga dengan alasan sebagai berikut: Pertama, Pyongyang melihat perkembangan isu BDA dalam pertemuan bilateral dengan Washington di tempat lain. Kedua, pihaknya menderita kekurangan energi serius di dalam negeri. Dan ketiga, setelah melakukan tes nuklir, Pyonyang yakin pihaknya bisa memperoleh keuntungan nyata dalam posisi negosiasi yang lebih baik. Pyongyang menggunakan strategi negosiasi tradisional dengan meningkatkan kekuatan negosiasi pada awal dengan tindakan keras, kemudian bernegosiasi dengan mitranya dengan maksud mencapai tujuan yang mereka inginkan.
  • Tindakan awal
    Sesi ke-3 dimulai dengan konsep “langkah awal” yang terbentuk selama sesi sebelumnya dan konsep itu berkembang dalam pertemuan Berlin. Oleh karena itu, walaupun konsep itu seharusnya menjadi poin utama, tetapi tindakan imbalan, khususnya bantuan energi lebih terfokus daripada “langkah awal “. Kesepakatan baru berbeda dengan persetujuan Jenewa 1994, proses negosiasi menerapkan berbagai tahap dan imbalan, sebagai gantinya hanya memberlakukan ‘tindakan pembekuan nuklir’ dengan ‘bantuan energi’.
    Kesepakatan itu terdiri atas proses denuklirisasi dengan penutupan, pelumpuhan dan pembuangan fasilitas nuklir Korea Utara dan tindakan imbalan dari 5 negara lain:

Tahap Denuklirisasi

Pembekuan Menghentikan operasi dan menyegel fasilitas nuklir.
Korea Utara dapat mengaktifkan kembali fasilitas hanya dengan mencabut segel dan menghidupkan listrik dalam fasilitas. Dibutuhkan 6 tahun untuk mencapai pembuangan nuklir dari tahap pembekuan ini.
Penutupan Adalah tahap yang lebih dari sekedar pembekuan. Dilarang mengelola dan memperbaiki fasilitas yang disegel. Pengaktifan kembali akan membutuhkan banyak waktu dan upaya. Hanya memerlukan beberapa bulan untuk mencapai tahap denuklirisasi.
Pelumpuhan Berarti penutupan permanen fasilitas nuklir termasuk mengambil tindakan teknis untuk mecabut komponen inti nuklir dari fasilitas. Untuk menghidupkannya kembali dibutuhkan pembangunan fasilitas.
Denuklirisasi Adalah tujuan terakhir. Tetapi akan menjadi cerita lain kalau Korea Utara menganggap masalah fasilitas nuklir mereka terpisah dari senjata nuklir.

Pembagian beban biaya bantuan energi

Bagaimana membagi beban biaya untuk bantuan energi menjadi isu utama yang akan dapat memberi pengaruh paling penting pada perkembangan negosiasi ke depan. AS dan Jepang tidak menjelaskan posisinya tentang biaya itu karena mereka mengharapkan Korea Selatan akan menanggung biaya itu. Tetapi, Seoul mengajukan prinsip pembagian beban secara seimbang di antara 5 negara dalam pemasokan minyak solar ke Pyongyang.

Posisi masing-masing peserta tentang pemberian minyak

- AS diam saja
- China menunjukkan sikap aktif untuk menuntaskan masalah itu
- Jepang tidak mau memberi bantuan, kalau masalah penculikan warga Jepang dimasa lalu tidak dituntaskan.
- Rusia segan untuk memberikan, dengan alasan UU domestik melarang pemberian bantuan kepada Korea Utara yang belum membayar hutang lain di masa lalu.
- Korea Selatan bersikukuh pada prinsip pembagian beban biaya secara seimbang.

Evaluasi

  • Kesepakatan rinci tentang cara pelaksanaan untuk kali pertama
    Pencapaian terbesar dalam sesi ketiga adalah peserta bisa mencapai persetujuan dengan cara pelaksanaan yang rinci untuk pertama kali sejak masalah nuklir Korea Utara muncul kembali. Pertemuan segi 6 sebelumnya hanya membahas prinsip saja, namun persetujuan baru itu menetapkan langkah pertama untuk menuju pembuangan program nuklir Korea utara secara nyata. Memang , cara negosiasi itu berat, karena para peserta harus mengambil langkah awal masing-masing, dan sekaligus harus membuat perkembangan untuk kemajuan tahap berikutnya. Tetapi perkembangan pertemuan itu sangat bermakna karena peserta akhirnya mulai berlayar menuju ke denuklirisasi Semenanjung Korea.
  • Pendekatan dengan berbagai cara (Multi-Track)
    Pembentukan 5 kelompok kerja untuk menuntaskan isu terkait akan menjadi alat yang berguna dalam menciptakan perkembangan negosiasi. Menurut kesepakatan, perkembangan di satu kelompok kerja akan tidak memberi pengaruh pada perkembangan di kelompok kerja (WG) lain. Oleh karena itu, agenda masing-masing akan dibahas secara terpisah. Dengan kata lain, kandasnya satu isu akan tidak menghambat pembahasan agenda lain. Ada kesepakatan tambahan bahwa “rancangan yang dibuat oleh 5 WG akan dilaksanakan secara keseluruhan dengan cara koordinasi” untuk mempercepat proses pelaksanaan.
  • Pertimbangan politis
    Enam pihak sepakat untuk membuka jalan untuk pembahasan tingkat tinggi dengan mengadakan pertemuan tingkat menteri.
    Hal itu mencerminkan tekad politik peserta yang ingin melaksanakan kesepakatan.
    Kesepakatan baru itu meletakkan landasan untuk membuat pertemuan segi 6 menjadi arena diskusi isu nuklir Korea Utara maupun isu pembentukan sistem baru di kawasan Asia Timur Laut secara keseluruhan.
  • Forum lain tentang sistem perdamaian permanen di Semenanjung Korea
    Kesepakatan baru menyediakan jalan untuk membahas sistem perdamaian permanen di Semenanjung Korea, dimana isu sendiri tampaknya adalah masalah kompleks. Forum boleh secara resmi membahas penyelesaian Perang Korea seperti diusulkan oleh Presiden AS George W. Bush. Masalah sistem perdamaian di Semenanjung Korea akan lebih efektif untuk dibahas bersama dengan perkembangan yang dibuat dalam proses penuntasan masalah nuklir Korea Utara.

Prospek dan pekerjaan rumah

  • Pelaksanaan kesepakatan
    Dalam negosiasi dengan Korea Utara, pelaksanaan nyata yang telah disetujui selalu menarik perhatian besar. Kesepakatan baru akan menjadi sia-sia kalau Pyongyang tidak mengambil tindakan awal yang dijanjikan . Tetapi kali ini, kemungkinan pelaksanaan kesepakatan sangat besar karena langkah awal dan tindakan imbalan terkait erat satu sama lain.
    Walaupun demikian, sulit untuk menduga apa yang akan terjadi di dalam pertemuan tingkat kerja.
  • Kesulitan negosiasi gara-gara pembagian banyak tahap
    Korea Utara mengambil strategi untuk membagi proses denuklirisasi dengan banyak tahap. Dengan pembagian proses dengan sedapat mungkin banyak tahap itu, mereka bertujuan untuk memaksimalkan perolehan imbalan setiap tahap. Sehingga pendapat 5 negara lain akan bisa sering berbeda dalam setiap tahap. Oleh karena itu, tugas paling penting dalam negosiasi ke depan adalah menyelaraskan tahap denuklirisasi Korea Utara dan tindakan imbalan 5 negara lain.
  • Pemisahan fasilitas nuklir dengan program senjata nuklir
    Sama dengan strateginya yang membagi proses denuklirisasi dengan banyak tahap, Korea Utara nampaknya melakukan strategi untuk memisahkan program senjata nuklir mereka dari fasilitas nuklirnya.
    Pyongyang mengembangkan senjata nuklir walaupun banyak kesulitan; sehingga mereka tidak mau menyerahkan senjata nuklirnya begitu saja.
    Oleh karena itu, Korea Utara mungkin akan melakukan negosiasi untuk memisahkan fasilitas nuklirnya dengan program senjata nuklir.
    Membuang senjata nuklir itu akan menjadi tahap denuklirisasi terakhir bagi Korea Utara, dan sebagai imbalan, Korea Utara akan meminta imbalan lebih besar daripada yang mereka terima dari pembuangan fasilitas nuklirnya.
  • Jalan berliku-liku dan panjang
    Mencapai tujuan terakhir bebas nuklir Semenanjung Korea adalah tugas amat sulit. Misalnya, langkah menuju proses dari penutupan ke pelumpuhan fasilitas nuklir Korea Utara saja akan tidak mudah.
    Apalagi, jalan menuju ke langkah pembuangan program nuklir dan masalah senjata nuklir akan terlalu berliku-liku dan panjang sekali.
    Setiap tahap, Korea Utara akan dorong-mendorong dan tarik-menarik untuk memaksimalkan perolehan keuntungan. Ada juga banyak variabel yang tak terduga seperti perubahan internal di Korea Utara dan faktor lain seperti masalah BDA. Selain itu, persaingan ketat di antara negara peserta untuk memegang hegemoni baru di kawasan Asia Timut Laut akan menjadi variabel lain.
  • Hubungan antarKorea
    Kesepakatan baru itu menghapuskan rintangan dalam hubungan antarKorea. Korea Selatan akan dapat membuka kembali penyerahan bantuan pangan dan pupuk kimia kepada Korea Utara dan membuka kembali saluran dialog antarKorea. Perkembangan seperti itu akan dapat membawa pertemuan puncak Seoul dan Pyongyang setelah isu nuklir Korea Utara dituntaskan.
    Didalam negeri, dengan pemilihan presiden ke depan, hubungan antarKorea akan menjadi isu sangat sensitif.
  • Normalisasi hubungan Korea Utara dengan AS dan Jepang
    Kesepakatan baru menyajikan jalan untuk memperbaiki hubungan antara AS dan Korea Utara . Pyonyang selama ini terus menuntut pencabutan Korea Utara dari daftar negara pendukung teroris dan mencairkan rekening Korea Utara di luar negeri. Pintu juga dibuka seperti apa yang diinginkan oleh Pyongyang selama ini yakni kontak dengan Washington secara langsung hingga kedua belah pihak akan memperbaiki hubungan bilateral asal Korea Utara melakukan langkah awal dan membangun kepercayaan dengan AS.
    Dalam hubungan Korea Utara dan Jepang, isu penculikan tetap menjadi penghalang. Walaupun begitu, karena Korea Utara telah mendapat hasil melalui negosiasi termasuk perolehan bantuan energi, Pyongyang akan bisa lebih melunakkan posisinya tentang hubungannya dengan Jepang. Kesepakatan baru membuka kemungkinan bagi kedua belah pihak mulai membahas isu penculikan .
  • Pertemuan berikutnya pada 19 Maret
    Pertemuan berikutnya dijadwalkan 19 Maret memberikan kesempatan untuk meninjau kembali perkembangan kesepatakan yang dicapai sebulan sebelumnya.
    Kemungkinan rintangan baru yang akan muncul sebelum pertemuan itu. Pembukaan pertemuan pada waktu yang tepat berarti penghambat pertama sudah lolos.
  • Kekurangan kesepakatan 13 Februari
    Kesepakatan menyebut bahwa reaktor nuklir 5 megawatt di Yongbyeon akan dilumpuhkan tetapi tidak ada sebutan tentang reaktor 200 megawatt di Taecheon yang belum selesai pembangunannya.
    Kalimat dalam kesepakatan itu juga menyebut Korea Utara “membahas” dengan peserta lain tentang semua daftar program nuklirnya… termasuk plutonium” adalah kalimat yang sangat tidak jelas.
    Apalagi, kesepakatan gagal untuk menyebut isu utama lain: uranium yang dikayakan secara kimia agar berkadar lebih tinggi (HEU) di Korea Utara.
    Isu seperti itu senantiasa muncul sebagai pencegah proses denuklirisasi kapan saja.